Langsung ke konten utama

5 Modal Dasar Perempuan Bisa Sukses Berwirausaha

Alamanda Shantika, Founder Binar Academy
dan mantan VP of Product Go-Jek(Instagram @alamandas)

Mungkin, perempuan pemilik nama Alamanda Shantika adalah salah satu orang dari beberapa perempuan yang sukses menggeluti dunia bisnis yang kental dengan stereotip “ladangnya” bisnis pria.

Ala, perempuan 30 tahun itu bagian dari sejarah berdirinya Go-Jek Indonesia, perusahaan besutan Nadiem Makarim, dengan jabatan sebagai Vice President. Era Milineal, perempuan bukan lagi menjadi second line dalam sebuah perusahaan-perusahaan besar, masih banyak Alamanda lainnya yang telah sukses dengan menggeluti dunia bisnis pria.

Pada zaman sekarang, masyarakat memberikan kesempatan besar bagi perempuan untuk bisa mandiri atau terjun langsung di dunia kewirausahaan, tentu dengan catatan tidak melupakan jati diri sebagai perempuan, istri, dan ibu dalam sebuah keluarga.

Beberapa keunggulan sosok perempuan jika menggeluti bisnis atau wirausaha yang pada umumnya jarang dimiliki oleh pria. Berikut keunggulan tersebut:
1.      Mampu Membangun Jaringan Lebih Cepat dan Luas.
Wanita pada umumnya luwes dan selalu berusaha agar dapat menjadi pusat perhatian (dalam hal positif) karena secara psikologis perempuan memiliki sifat ingin selalu berbagi dan berjiwa sosialis.
Perihal tersebut merupakan modal dasar bagi perempuan untuk membangun jaringan/kolega lebih cepat dan luas, menjadikannya salah satu kekuatan dalam melakukan bisnis atau wirausaha.
2.      Daya Kreatif Tinggi
Kreatifitas pada dasarnya lebih bersifat sebuah ide yang terbarukan. Menyempurnakan gagasan butuh ketalatenan dan keuletan dan tentu membutuhkan inovasi-inovasi baru yang dapat melengkapi ide dasarnya agar lebih tampak Indah, bagus dan sempurna. Nah, keuletan dan imajinasi inilah kebanyakan dimiliki oleh perempuan dibandingkan pria.
3.      Pandai Mengatur Masalah Finansial
Perempuan yang bisa disebut ibu atau Istri  dalam sebuah rumah tangga sebagian besar menjadi bendahara rumah tangga yang mengatur anggaran belanja rumah, uang jajan anak, transport suami, dan kelengkapan rumah tangga lainnya sesuai apa yang ia terima dari pendapatan atau gaji suaminya. Bisa kita lihat, terkadang pada tanggal tua, tiba-tiba istri masih bisa menyisihkan uang bulanan yang ia dapat dari suaminya, gemi (istilah dalam bahasa jawa yang artinya irit).
4.      Telaten dan Hati-Hati
Bila kita memerhatikan pekerjaan domestik dari seorang ibu atau istri, bisa mengerjakan beberapa pekerjaan dan selesai pada hari itu juga, seperti memasak, mengurus rumah tangga, menyiapkan sarapan pagi anak dan atau suami sebelum berangkat, ditambah pekerjaan kantor apabila pepermpuan tersebut bekerja office hour.
Hasil dari pekerjaan tersebut diselesaikan dengan sempurna, sebelum sang suami atau anggota keluarga lainnya pulang, cukup menarik the power of mom ini. Kegigihan, ketelatenan dan sifat kehati-hatian dalam mengurus pekerjaan lebih dimiliki sosok perempuan ketimbang seorang pria, alias tidak grusa -grusu.
5.      Dapat Bekerja Multitasking
Seperti yang dijelaskan pada point 4, bahwa mengacu pada pekerjaan domestik seorang perempuan di rumah yang begitu banyaknya, begitu lelahnya dikerjakan namun tetap dikerjakan dengan penuh hati-hati dan rasa pengabdian terhadap suami dan keluarganya itu.
Kelebihan yang mampu mengerjakan beberapa jenis pekerjaan dalam satu waktu yang sama, sehingga lebih efektif dan efesien yang kebanyakan pria hanya bisa fokus pada satu jenis pekerjaan tertentu.

Kekuatan inilah banyak perempuan menjadi mompreneur yang telah terbiasa mengerjakan beberapa bagian pekerjaan rumah secara bersamaan. Sehingga daya ingat dan kecekatan tangannya lebih terlatih, karena dunia usaha adalah dunia yang sangat menghargai waktu.

Seperti yang pernah dituturkan oleh Ala, sebutan dari Alamanda Shantika: "Ibu rumah tangga itu sebenarnya juga manajer terbaik. Aku lihat mamaku di rumah pagi nganterin cucu, belum lagi kalau rumah ada yang bocor. Dia juga harus ingat mbak-nya hari ini belanja apa. Itu bukan hal mudah," ia menjelaskan.

Ala juga mengatakan bahwa sebagai perempuan harus punya kepercayaan diri dan jangan pasrah dan berpikir tak bisa jadi seseorang. Jika memilih berkarir, maka lakukan dengan maksimal. Jika memlih jadi ibu rumah tangga, itu juga merupakan pekerjaan yang sulit dan perlu kemampuan manajerial yang mumpuni.

"Jadikan tujuan sebagai bahan bakar kita untuk hidup,"
--IMI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontribusi Gojek Mendorong Pengusaha Perempuan Berbisnis Digital

Ilustrasi-Gojek Sebuah kabar menggembirakan dari penyedia layanan mobile on-demand dan pembayaran berbasis aplikasi, Gojek, yang telah berpartisipasi dalam upaya mendoroang pengusaha perempuan Indonesia agar masuk ke bisnis digital. Mereka berharap dengan masuknya pengusaa Perempuan ke dalam bisnis digital dapat meningkatkan skala usaha dan pangsa pasar lebih luas lagi. Seperti yang diutarakan oleh Head Regional Corporate Affairs Gojek Wildan Kesuma bahwa, pihaknya telah berkolaborasi dengan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) agar bisa mewujudkan perempuan yang melek digital. Kerjasama ini sejalan dengan misi asosiasi demi peningkatan kapasitas pengusaha perempuan dalam penggunaan dan pemanfaatan teknologi di era ekonomi digital, saat ini. “pembekalan praktis berbisnis kami berikan kepada 150 pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) anggota IWAPI Jabar. Para Peserta pembekalan diharapkan mampu mendayagunakan teknologi untuk meningkatkan skala bisnis serta ...

Perempuan Muda, Berkarya dan Berprestasi

NIA ROSALINA, S.H. ADVOKAT Perempuan kelahiran Jakarta, yang akrab dipanggil dengan nama Nia merupakan deretan perempuan yang memilih karir sebagai pengacara. Sebuah pekerjaan yang sarat dengan intimidasi, terror, dan kekerasan demi menegakkan hukum dan aturan, sebagai wujud supremasi hukum Indonesia.

KOLING INDONESIA, KOPI PREMIUM DI KAKILIMA

Dayu Pratama dengan gerobak Koling Sejak kuliah di Universitas Sanata Yogyakarta, Dayu Pratama sudah aktif dalam berbagai kegiatan pendampingan masyarakat. Salah satunya adalah mendampingi petani kopi. Basis sebagai LSM ini, membuat Dayu tak hanya mampu menangkap psikologis para petani kopi, tetapi juga membuatnya memiliki jaringan yang kuat. Di saat yang bersamaan, tinggal di Yogyakarta, Dayu melihat kuatnya kaki lima di kota gudeg ini. “Kalau kita bicara jalan Malioboro, maka di sana adalah kaki lima,” katanya. Tapi, kakilima itu kan identik dengan amburadul dan seadannya. Hal itulah yang mencetuskan ide, bagaimana menghadirkan kopi jalanan, tapi dengan kopi premium dari kebun-kebun petani yang ia dampingi selama ini dan dikemas dengan menarik. Dengan merogoh kocek sebesar Rp80.000, tahun 2013 Dayu memulai usahanya dengan membuat gerobak kopinya. Ia memberi nama Koling sebagai brand. Siapakah target marketnya? Tentu saja penikmat kopi, yang ia targetk...